Printed Book
PRA RANCANGAN PABRIK ASTAXANTHIN DARI HAEMATOCOCCUS PLUVIALIS DENGAN METODE EKSTRAKSI SUPERKRITIK
Astaxanthin merupakan suatu senyawa karotenoid, yang merupakan pigmen alami yang
memiliki warna merah pada tanaman atau hewan. Astaxanthin adalah senyawa antioksidan yang
dapat bermanfaat dalam menjaga kesehatan organ-organ tubuh manusia. Astaxanthin dapat
ditemukan pada berbagai jenis hewan dan tumbuhan yang memiliki pigmen merah antara lain
beberapa jenis alga, ikan salmon, udang, lobster, dan lain-lain. Seiring dengan berkembangnya
ilmu pengetahuan dan teknologi, astaxanthin diformulasikan guna bahan baku obat-obatan untuk
mencegah berbagai macam penyakit. Di Indonesia, hanya satu pabrik yang diketahui mengolah
astaxanthin dari mikroalga Haematococcus Pluvialis, yaitu PT. Evergen Resource di daerah
Kendal, sehingga masih sulit ditemukan di Indonesia.
Untuk memenuhi keseimbangan antara permintaan pasar dan persediaan astaxanthin,
maka dibuat pabrik baru. Salah satu proses dengan kondisi ekonomi dan teknoekonomi yang
menguntungkan untuk memproduksi astaxanthin adalah dengan metode ekstraksi superkritik.
Metode ini berprinsip pada pemisahan zat terlarut dalam mikroalga Haematococcus Pluvialis
yaitu astaxanthin, dengan menggunakan pelarut CO2 pada kondisi superkritisnya. Kandungan
astaxanthin pada mikroalga Haematococcus Pluvialis dianggap memiliki kadar paling tinggi
yaitu 5% dari massa oleoresin yang terbentuk.
Pabrik direncanakan didirikan di Provinsi Kalimantan Selatan, tepatnya di daerah Bunati,
Angsana dengan kapasitas 6 ton/tahun. Pembangunan dimulai pada tahun 2021 dan akan
beroperasi pada 2022. Bahan baku yang digunakan adalah mikroalga Haematococcus Pluvialis
dari bibit yang dipesan dari Amerika Serikat dan kemudian dikembangkan di daerah Bunati.
Proses produksi astaxanthin ini dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap kultivasi, tahap dewatering,
dan tahap biorefinery. Tahap kultivasi yaitu dengan mengembangbiakkan mikroalga dalam
fotobioreaktor dengan diberikan komponen-komponen yang dibutuhkan untuk berkembangbiak.
Tahap kultivasi ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu bagian perkembangbiakkan mikroalga pada
fotobioreaktor pertama dan pembentukan astaxanthin mikroalga pada fotobioreaktor kedua. Pada
fotobioreaktor pertama dilakukan pada suhu 25 ?C dan tekanan 1 atm. Sedangkan pada
fotobioreaktor kedua dilakukan pada suhu 32 ?C dan tekanan 1 atm. Tahap dewatering yaitu
memisahkan dan menghilangkan kadar air pada mikroalga sehingga didapat biomassa kering
untuk selanjutnya dilakukan proses ekstraksi. Tahap dewatering dilakukan dengan beberapa alat
seperti bak sedimentasi, centrifuge, freeze dryer, dan bead miller untuk memotong biomassa
kering menjadi ukuran yang lebih kecil dan astaxanthin dapat dikeluarkan dari cangkang
mikroalga. Secara umum tahap dewatering dilakukan pada suhu 32 ?C dan tekanan 1 atm. Tahap
biorefinery merupakan tahap yang penting dalam produksi astaxanthin karena tahap ini
menghasilkan oleoresin yang didalamnya terkandung astaxanthin. Tahap ini menggunakan
metode ekstraksi superkritik dengan pelarut CO2 dan dbiantu dengan co-solvent berupa etanol.
Tahap ini dilakukan pada kondisi suhu 50 ?C dan tekanan 542,8 atm.
Perusahaan ini berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) dimana struktur organisasi yang
digunakan adalah garis dan staf. Perusahaan ini dipimpin oleh seorang direktur utama dengan
jumlah karyawan 98 orang. Berdasarkan analisa ekonomi yang dilakukan, disimpulkan bahwa
perancangan pabrik astaxanthin yang akan didirikan ini layak (feasible) karena diperoleh
NCFPV pada bunga bank sebesar 10 % sebesar Rp 335 Milyar, dengan Minimum Payback
Period (MPP) didapatkan pada 3 tahun 9 bulan 25 hari, sehingga investasi kembali sebelum
umur pabrik 10 tahun dan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 38,10% yang mana lebih besar
dari tingkat bunga yang berlaku (10,00%).
Tidak tersedia versi lain