Tugas Akhir Sarjana
PRA-RANCANGAN PABRIK ETHANOLAMINE DENGAN KAPASITAS 8.000 TON/TAHUN
Ethanolamine pertama kali dibuat pada tahun 1860 oleh Wurtz dari Ethylene
Chlorohydrin dan larutan Ammonia. Pada abad ke 19 ditemukan metode baru untuk
memperoleh Ethanolamine dengan mereaksikan Ammonia dengan Ethylene Oxide.
Senyawa-senyawa golongan Ethanolamine (MEA, DEA, TEA) banyak dipergunakan pada
industri-industri minyak dan gas bumi, industri agrokimia, deterjen, kosmetika, dan tekstil.
Indonesia merupakan penghasil Ammonia dengan kapasitas produksi yang cukup besar
diantaranya PT. Petrokimia Gresik kapasitas 1 juta ton, PT. Pupuk Kalimantan Timur
Kapasitas 2,7 juta ton , PT. Pupuk Kujang kapasitas 960 ribu ton. sedangkan untuk Ethylene
Oxide diproduksi oleh PT. Polychem Indonesia kapasitas 365 ribu ton.
Impor Ethanolamine di Indonesia sangat tinggi menurut data dai Badan Pusat
Statistik, tetapi produksi Ethanolamine belum tersedia. Oleh karena itu, terdapat potensi yang
sangat besar untuk didirikan pabrik Ethanolamine mengingat kebutuhan semakin meningkat
dan ketersediaan bahan baku. Kemurnian Monoethanolamine, Diethanolamine, dan
Triethanolamine yang beredar dipasaran saat ini sebesar 95-99%, direncanakan pabrik akan
memproduksi dengan kemurnian Monoethanolamine 99,8%, Diethanolamine 95%,
triethanolamine 98,8%
Pabrik direncanakan akan dibangun di Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat
dengan kapasitas 8000 ton/tahun. Pembangunan dimulai pada awal tahun 2022 dan akan
beroperasi pada awal tahun 2023. Proses pembuatan Ethanolamine dilakukan dengan
mereaksikan Ammonia dengan Ethylene Oxide menggunakan katalis Silica Alumina, reaksi
yang terjadi di dalam Reaktor Fixed Bed Multitbe menghasilkan panas (reaksi eksotermis)
xi
dengan kondisi temperatur 110oC dan tekanan 98,6 atm. Reaksi terjadi secara seri-paralel
denga konversi 98% terhadap Ethylene Oxide, dimana Ethylene Oxide akan bereaksi dengan
Ammonia membentuk Monoethanolamine, kemudian Monoethanolamine dapat bereaksi
dengan Ethylene Oxide membentuk Diethanolamine dan selanjutnya Diethanolamine dapat
bereaksi dengan Ethylene Oxide membentuk Triethanolamine. Proses pemisahan Ammonia
berlebih dilakukan dengan alat Flash Drum, sedangkan untuk pemisahan dan pemurnian
produk Ethanolamine dilakukan dengan menggunakan Distilasi.
Kebutuhan sarana penunjang pabrik Ethanolamine ini diantaranya yaitu kebutuhan air
sebesar 12464,0995 kg/jam untuk start up dan 9272,0530 kg/jam saat continue, kebutuhan
listrik sebesar 13126,1570 kWh, kebutuhan Downterm G sebesar 307909,3339 kg/jam dan
kebutuhan bahan bakar sebesar 3463,8577 liter/hari.
Perusahaan ini berbadan hukum perseroan terbatas (PT) dimana struktur organisasi
yang dipakai adalah garis dan staf. Perusahaan ini dipimpin oleh seorang direktur utama
dengan jumlah karyawan 120 orang.
Dari hasil analisa ekonomi yang dilakukan, diperoleh :
1. Total Cost Investment (TCI) : Rp 473.809.643.167 (473 Milyar)
a. Pinjaman Bank (26.12%) : Rp 350.049.643.166 (350 Milyar)
b. Modal sendiri (73,88%) : Rp 123.760.000.000 (123 Milyar)
2. Suku bunga per tahun : 10%
3. Periode pinjaman : 10 tahun (1 tahun masa tengang)
4. Break Even Point tahun pertama : 34,69%
5. Internal Rate of Return (IRR) : 36,56%
6. Minimum Payback Period (MPP) : 3 tahun 11 bulan
Berdasarkan hasil analisa kelayakan ekonomi diatas dan jika di tunjang dengan
perekonomian Indonesia yang stabil, maka pabrik Ethanolamine dengan kapasitas 8000 ton
per tahun, dapat disimpulkan bahwa pendirian Pabrik Ethanolamine adalah layak (feasible)
untuk didirikan.
Tidak tersedia versi lain