Kintan Putri Nabila - Nama Orang; Adinda Primadevi Susanto - Nama Orang; Prof. Dr. Ir. Joelianingsih, M.T., I.P.M. - Nama Orang;
Metanol atau metil alkohol (CH3OH) merupakan senyawa kimia yang banyak
digunakan sebagai bahan baku pada produksi formaldehida, industri asam asetat, MTBE (metil
tersier butil eter), polivinil, kayu lapis, poliester, karet, resin sintetis dan DME (dimetil eter)
terutama industry formaldehida dan asam asetat yang berkembang pesat di Indonesia. Namun,
kapasitas produksi di Indonesia yang belum dapat memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri
maupun luar negeri sehingga nilai impor masih sangat tinggi. Sampai saat ini, di Indonesia
hanya ada 1 (satu) pabrik yang memproduksi metanol murni yaitu PT Kaltim Metanol Industri
yang berlokasi di Kalimantan Timur dengan kapasitas produksi 660.000 ton/ tahun. Dengan
kapasitas yang tersedia ini, Indonesia tetap harus melakukan impor dari negara luar dan menurut
data impor metanol dari Badan Pusat Statistik tahun 2018 – 2022 dengan rata rata pertumbuhan
8,41% dengan prediksi impor pada tahun 2027 adalah 1.436.555,52 ton. Hal ini menandakan
kebutuhan metanol di Indonesia akan terus meningkat dan berkelanjutan. Berdasarkan data
selisih pernawaran-permintaan serta informasi kapasitas terpasang di dunia serta
mempertimbangkan ketersediaan bahan baku maka kapasitas pabrik metanol yang akan
dibangun adalah 75.000 ton/ tahun sebagai upaya memenuhi kebutuhan metanol di dalam
negeri.
Pada perancangan pabrik ini, bahan baku yang digunakan adalah gas Syngas yang
berasal dari gas sintetik sisa produksi PT Pupuk Kalimantan Timur. Teknologi reaksi konversi
dari gas sintetik dianggap lebih sederhana dibandingkan konversi dari gas alam karena tidak
melalui proses pra pengolahan hal ini akan memperkecil kebutuhan investasi. Penggunaan
teknologi konversi ini memiliki konsumsi energi, biaya operasi dan investasi modal yang lebih
rendah. Proses produksi metanol dari gas Syngas ini mengacu pada paten Patent US
2017/9839899B2 dengan pertimbangan bahan baku, kondisi operasi dan tingkat kompleksitas
teknologi, pemakaian energi, penggunaan katalis, konversi produk yang dihasilkan besar, dan
limbah yang dihasilkan. Proses utama sintesis metanol menggunakan teknologi ini adalah gas
Syngas direaksikan dalam reaktor fixed bed multitube dengan bantuan katalis CuO/ZnO/Al2O3.
Metanol yang dihasilkan kemudian dipisahkan dan dimurnikan melalui proses destilasi
sehingga didapat kemurnian 99,86%. Pada proses produksi metanol, dibutuhkan sarana
penunjang berupa air bersih sebanyak 46.359,51 kg/jam, steam pada boiler dan heater sebanyak 11.598,74 kg/jam , bahan bakar (bio solar) sebanyak 20.265,970 L/ hari dan kebutuhan listrik
sebanyak 280,07 kW/hari.
PT Bintang Metanol merupakan perusahaan yang berbadan hokum Perseroan Terbatas
(PT) yang dipimpin oleh seorang direktur utama dengan total karyawan 130 orang. Berdasarkan
analisis ekonomi yang telah dilakukan, diperoleh:
1. Total Capital Investment (TCI) = Rp964.809.488.503,-
2. Pinjaman bank = Rp588.394.415.273,-
Suku bunga = 10,00%
Periode pinjaman = 5 tahun
3. Break Even Point (BEP) tahun pertama = 46,99 %
4. Minimum Payment Periode (MPP) = 2 tahun 8 bulan
5. Internal Retun Ratio (IRR) = 17,15 %, lebih besar dari bunga bank
6. NCFPV pada bunga bank 10% = Bernilai Positif
Analisis kelayakan ekonomi, menunjukkan bahwa BEP pada tahun pertama sebesar
46,99% kapasitas dengan nilai MPP yang diperoleh selama 2 tahun 8 bulan. Hal ini
menunjukkan bahwa investasi yang telah dikeluarkan kembali pada 2,7 tahun, dibawah umur
pabrik yaitu 10 tahun. Selain itu nilai IRR sebesar 28,79% lebih besar dari suku bunga yang
diambil sebesar 10,00% sehingga investor lebih tertarik untuk berinvestasi dan NCFPV pada
bunga 10,00% bernilai positif. Oleh karena itu, pabrik PT Bintang Metanol ini layak didirikan.
| # | Lokasi | No. Panggil | Kode Eksemplar | Status |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Perpustakaan ITI | TK 2025 029 | TK2025029 | Tersedia |
| 2 | Perpustakaan ITI | TK 2025 029 | TK2025029-CD | Tersedia |
Tidak Ada Data